Jumat, 28 Oktober 2011

Asal Mula Sungai Kapuas

Di Kalimantan Barat terdapat sebuah sungai yang lebar dan panjang, sungai ini terkenal di seluruh Indonesia. Narnanya Sungai Kapuas. Sungai Kapuas ini banyak cabangnya. Cabang-cabangnya berupa sungai-sungai yang kecil dan jumlahnya banyak. Salah satu cabangnya adalah Sungai Kawat. Mengapa dinamakan Sungai Kawat? Nah simaklah cerita di bawah ini.
     Sungai Kawat terletakdi kota Sintang, Kalimantan Barat. Pada zaman dahulu, ketika kota Sintang baru didirikan oleh Djubair I, hiduplah seorang nelayan sungai dengan istri dan anak-anaknya. Mereka tinggal tidak jauh dari Sungai Kawat itu.
     Keluarga nelayan itu tergolong keluarga miskin. Setiap hari sang ayah hanya menggantungkan hidupnyadari menangkap ikan. Kadang-kadang mujur, tetapi ada kalanya sehari penuh ia tidak mendapatkan seekor ikan pun.
     Pada suatu hari, nelayan itu pergi memancing. la rnembawa dua buah pancing. Hal ini dilakukan untuk menjaga kemungkinan jika pancingnya putus, ia masih dapat menggunakan pancingnya yang sebuah lagi.
la mendayung perahunya masuk ke Sungai Kawat (saat itu belum ada namanya). Setelah pancing itu diberi umpan, pancing itu diulurkannya ke air dan ia menunggu pancingnya ditarik oleh ikan. Matahari telah tinggi, namun tidak seekor ikan pun mendekati pancing si nelayan, apalagi untuk memakan umpannya. Akan tetapi, nelayan itu tidak lekas putus asa. Telah beberapa kali ia berpindah tempat di sungai itu, tetapi keadaannya sama saja. Nelayan itu telah bertekad bahwa jika ia pulang ke rumah, ia harus rnembawa ikan untuk anak dan istrinya walaupun hanya seekor.
     Ketika matahari mulai condong ke ufuk barat, ia mendayung perahunya lebih ke hulu sungai dengan harapan di sana ada ikan yang akan menarik pancingnya. Di sebuah teluk kecil yang banyak batunya, nelayan itu berhenti.tanah di sekitar tempat itu berlumut dan ditumbuhi pohon-pohon.kayu yang besar.
     "Mungkin di sini banyak ikannya," pikir nelayan itu.
     la mulai mengganti umpan pancingnya dengan umpan yang baru. Kemudian pancing itu diulurnya ke dalam air. Setelah begitu lama ia menunggu, tidak ada tanda-tanda pancingnya akan ditarik oleh ikan. Ketika matahari hampirterbenam dan nelayan itu akan pulang, tiba-tiba pancingnya ditarik dengan keras dari dalam air. Nelayan itu mengangkat pancingnyadan sekaligus menyentaknya ke atas. "Ah, besar sekali ikan ini," pikirsi nelayan.
     Ikan itu menyangkut di pancing dan menarik tali pancing itu ke sela-sela batu yang ada di tepi sungai. Tali pancing terus diulur lebih panjang oleh si nelayan agar pancing itu tidak putus. Ketika tarikan dari dalam air mulai melemah, nelayan itu menarik kembali tali pancingnya ke atas. Pada saat si nelayan sedang menarik pancingnya, tali pancing itu ditarik kembali dari dalam air mengarah ke tengah sungai. Dengan cepat, nelayan itu mengulurkan pancingnya kembali agar tidak putus. Ketika itu hari sudah mulai gelap. Tambahan lagi, daun-daun yang rimbun menambah kegelapan di tempat itu. Nyamuk-nyamuk yang mengerubungi si nelayan tidak dihiraukannya. Pikirannya hanya tertuju pada ikan yang akan diperolehnya.
     Pada saat tarikan dari dalam air ke tengah sungai, perahu nelayan itu ikut tertarik ke tengah sungai. Teluk sungai itu cukup dalam. Warna airnya tampak kehitam-hitaman karena hari telah gelap.
     Akhirnya, tarikan dari alam air mulai melemah. Si nelayan mulai menarik kembali tali pancingnya ke atas. Akan tetapi, ikan itu belum tampak. Nelayan itu lebih berhati-hati agar ikannya tidak lepas.
     Ketika seluruh tali pancingnya telah terangkat, tidak seekor ikan pun tampak. Yang menyangkut pada pancingnya adalah ujung tali kawat.
     "Wah, ikannya lepas," pikirsi nelayan. Tangannya menjangkau ujung kawat yang menyangkut di pancingnya. la mengamati ujung kawat itu dalam keremangan malam. Tampak olehnya kawat itu berwarna kekuning-kuningan. Setelah diketahui bahwa kawat itu adalah kawat emas, ia mulai menariknya.
     Satu depa, dua depa, ia merasa belum cukup juga. Padahal kalau ia mau bersyukur dengan satu dua depa saja hidupnya akan berkecukupan, tidak akan menderita kemiskinan. Namun sifat serakah telah merasuki dirinya. la ingin menjadi orang paling kaya di kampungnya. Maka ia ingin mendapatkan kawat emas itu sebanyak-banyaknya. la terus menarik dan menarik kawat itu dari dalam sungai. Meskipun sudah lama ia menariknya,.kawat itu belum juga habis.
     "Ah, panjang sekali. Aku akan menjadi orang paling kaya di seluruh dunia," pikir si nelayan. ia terus menarik kawat itu tanpa menghiraukan hari semakin gelap. Sampannya telah penuh-dengan gulungan kawat emas. la terus menarik dan menarik kawat emas yang tidak habis-habisnya itu.
Dari dalam air terdengar suara, "Sudaaaaaaaah, sudahlah, potong saja kawatnya."
     Namun, si nelayan tidak menghiraukan suara itu. la terus menarik dan menarik kawat itu karena ia ingin cepat menjadi kaya raya.
     Terdengar lagi suara dari dalam air memperingatkannya untuk kedua kalinya. "Potooooooooong, potong sajaaaaaaaa ...!"
     "Berhentiiiiiii...! Jangan diteruskaaaan!"
     Akan tetapi, nelayan itu tetap saja tidak peduli. Karena perahu nelayan itu sudah terlalu penuh dengan kawat emas maka air pun mulai masuk.
     Si nelayan yang telah menjadi rakus tetap belum berhenti menarik kawat. Sementara perlahari-lahan air terus merambat ke dalam perahu. Nelayan itu baru sadar setelah air benar-benar telah memenuhi perahu.     Namun terlambat, seketika itu juga perahu itu tenggelam bersama si nelayan ke dasar sungai.
Nelayan itu tidak pernah timbul, ia mati di dasar sungai akibat keserakahannya yang berlebihan. Itulah sebabnya sungai itu dinamakan Sungai Kawat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar